Berita
Allah Selalu Sediakan Jalan

  11 Agustus 2016    80

Menjadi seseorang yang berpangku kepada orang lain, bukanlah suatu keinginan wanita pemilik nama Nurhasanah. Namun, apa yang bisa dilakukannya ketika persoalan hidup menagihnya dan hasil jerih payah tak mampu menutupinya.

Ia harus menjadi ibu sekaligus bapak untuk ke empat anak-anaknya sejak 2007 silam. Ya, sang suami berpulang ke Rahmatullah lebih dahulu. Sang Pencipta telah dirindu kepadanya. Bertahan hidup di tengah kebinaran harta dan kekuasaan, menjadi dongkrak semangatnya bekerja.

Berbagai ranah pekerjaan ia jajal satu per satu. Dari buruh rumah tangga yang tak menentu, hingga joki mobil yang mengharuskan berjemur di tengah-tengah ibu kota. Mengulurkan tangan ke setiap mobil yang membutuhkan jasanya, melalui setiap lalu lalang keriuhan kota Jakarta.

Ia mengakui, sekitar 8 tahun lamanya, menggeluti pekerjaan tersebut untuk menghidupi keluarga. Tak jarang pula, harus berhati-hati kepada petugas Satpol PP, agar tak tertangkap basah. Meskipun begitu, besarnya kasih sayang kepada keluarganya tak mengalahkan rasa was-was itu.

Sulitnya menjadi survivor di kota besar, tak menyulitkan wanita berusia 54 tahun ini menjadi hamba untuk berinteraksi dengan Allah SWT. Sholat lima waktu, tahajud, dhuha, berpuasa Ramadhan, Senin-Kamis, berdzikir, bahkan menghafalkan Alqur'an.

"Alhamdulillah, tanpa saya sadari sudah menghafal surah Alwaqiah, As-Sajaddah, dan Al Mulk. Padahal, tidak saya hafalkan hanya saja, dibaca setiap hari," ungkap wanita yang berdiam di Depok, Jawa Barat ini.

Ia meyakini, dengan menjalankan berbagai ibadah, akan membantunya dalam menghadapi masalah apa pun yang hadir. Salah satunya, Allah memudahkan ia mendapatkan bantuan untuk biaya sekolahnya, melalui Senyum Mustahik PPPA Daarul Qur'an.

Sebenarnya, lanjut ia, bukan keinginannya untuk meminta bantuan. Tapi, mengandalkan hasil buruh cuci dan setrika panggilan tidak mencukupi untuk membiayai seluruh kebutuhan sekolah.

Keyakinan kepada Allah mengantarkan ia berikhtiar menuju kantor PPPA Daarul Qur'an usai melaksanakan shalat Shubuh. Ia berangkat dari Depok menuju stasiun Kebayoran dan melanjutkan dengan angkutan umum. Cuaca yang cukup terik tak membuatnya lelah menunggu namanya dipanggil oleh Koordinator Senyum Mustahik.

"Bismillah," ucapnya dalam benak. Berharap ikhtiar yang dilakukan dapat meringankan beban di pundaknya. Dengan senyum yang merekah di wajahnya ia berkata,"Alhamdulilah, mendapatkan pertologan Allah melalui Senyum Mustahik. InsyaAllah, segera untuk melunasi biaya sekolah anak saya.”

Ia menyampaikan terima kasih kepada para donatur PPPA Daarul Qur'an yang bersedia menyisihkan hartanya, untuk meringakan mereka yang membutuhkan. InsyaAllah, apa yang telah diberikan akan Allah SWT balas dengan yang lebih baik dan tiada henti. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita terakhir lainnya ..