Berita
Optimis di Bukit Rukem

  02 Agustus 2016    157

“Alhamdulillah, sudah lama saya dambakan. Mungkin ini jawaban atas doa warga selama ini," ujar Giyono, Imam Mushola Dukuh Rukem.

Bersama warga, Sunaryo Adhiatmoko, Direktur Pendayagunaan PPPA Daarul Qur'an menjelaskan tujuan dan tahapan program Santri Siaga Bencana (SIGAB) PPPA Daarul Qur'an di Dukuh Rukem. “Pipanisasi secara permanen, pembuatan tampungan air, dan perbaikan saluran selang ke rumah warga, agar air mengalir lancar dan tahan terhadap cuaca," jelas Sunaryo.

Beberapa waktu yang lalu, tim SIGAB tiba di Jogja dan langsung menuju Purwerejo. Bersama beberapa warga, tim langsung meninjau debit mata air di dua bukit, yang berjarak 5 kilometer.

“InsyaAllah, selain pipanisasi ada 26 rumah yang rusak, akan diperbaiki. Agar warga kembali tidur di rumah sendiri," tambahnya.

Dukuh Rukem yang sedikit publikasi, justru mengalami kerusakan paling parah akibat longsor Juni lalu. Sebanyak 36 rumah rusak, diantaranya 15 rumah hilang/tertimbun longsor. Berbeda dengan lokasi yang lain, bantuan relatif lebih banyak. Salah satu peyebabnya, Dukuh Rukem sempat terisolir akibat jalan terputus longsor. Bantuan pun mandeg hingga jalan kembali dibuka.

Sebelumnya, tim SIGAB sudah mendampingi warga Dukuh Rukem untuk memperbaiki jalan yang rusak, pipanisasi semi permanen, dan renovasi mushola. “InsyaAllah, setelah selesai pipanisasi dan bangun rumah, kita akan set up Rumah tahfidz Dukuh Rukem," jelas Maulana Kurnia Putra, Kepala Cabang PPPA Daarul Qur'an Jogjakarta yang turut serta dalam tim SIGAB.

Pak Giyono, nampak sumringah. Ia satu-satunya guru ngaji di Dukuh Rukem, juga merangkap Imam mushola. Ia sadar, meski sebagian besar bermata pencaharian buruh bangunan, keinginan warga Rukem belajar ilmu agama cukup besar. Namun, mengingat ia tak cukup ilmu, pengajian seadanya yang ia bisa.

Alhamdulillah, mendengar penjelasan program PPPA Daarul Qur'an, ia optimis masa depan Rukem lebih baik. Setiap ba'da Maghrib hingga menjelang Isya, di sebuah mushola kecil, Giyono mengajar 20-an anak-anak mengaji.

Guyono mengungkapkan, ia bukan ustadz, apalagi ahli agama dan hanya ilmu mengaji yang baru ia kuasai. Namun, ketiadaan guru ngaji, mendorongnya untuk mengelola mengelola TPQ di Mushola Rukem.

Alhamdulillah, usai mendengar rencana program Rumah Tahfidz di mushola sederhananya, bibirnya bergetar. “5 tahun lagi, akan banyak anak Rukem yang hafal Quran,” ujar Giyono amat harap.



Berita terakhir lainnya ..