Berita
Empat Santri dari Morowali

  87


Jum’at (12/10), Rombongan empat santri dari Morowali dengan seorang pendamping berbondong-bondong menuju Makassar melalui jalur darat. Perjalanan panjang dari Morowali menuju Makassar menempuh waktu 18 jam. Setelah perjalanan darat yang panjang dan melelahkan, mereka langsung terbang ke Jakarta.

Santri dari Morowali ini terdiri dari dua putra, dua putri. Seorang santri putra meskipun lahir dan besar di Morowali, tetapi bersuku Jawa. Dahulu orang tuanya mengikuti program transmigrasi dari pemerintah. Sedang 3 santri lainnya adalah asli Morowali bersuku Bugis. Kedatangan santri dari Morowali ini bukan tanpa sebab, mereka akan menimba ilmu dan mengkhatamkan hafalan Qur’an di Rumah Tahfidz Daarul Qur’an.

Awal kisah, bermula dari salah satu anggota pemerintah Kabupaten Morowali yang menghubungi Rumah Tahfidz Center (RTC)  untuk dibuatkan Rumah Tahfidz di Morowali Utara. Kendalanya, di Morowali penghafal Al Qur’an terasa sangat minim, bahkan susah dicari. “Kami ingin menghadirkan Rumah Tahfidz di Morowali namun kendalanya tidak ada Ustadz (guru) Tahfidz”, cetus Pak Heru.

Mendengar keluhan itu, RTC merespon dan memberikan sedikit tantangan kepada masyarakat di Morowali. “Kita tidak bisa kirim Ustadz kesana, namun kalau ada anak-anak di Morowali yang siap kita kader di pusat (Jakarta) antarkan saja mereka kesini”, ungkap Abdur Rohman, database RTC.

Rencananya, selama 3 tahun santri tersebut akan dikader dan digodog betul hafalan Qur’annya. Setelah matang, setelah siap terjun berdakwah di masyarakat, langsung dikembalikan ke Morowali. “Santri-santri itulah nantinya yang akan menjalankan dakwah Qur’an di Morowali”, tambah Abdur Rohman.

Langkah mencetak kader dakwah dari putra daerah ini dirasa sangat strategis. Ketika yang berdakwah adalah putra daerah, tentu akan lebih mudah diterima masyarakat. Lebih bisa memahami karakter dan permasalahan masyarakat sampai akar-akarnya. Selain itu, ketika putra daerah yang berdakwah tentu dia akan lebih “betah” karena menetap dan berjuang di tanah kelahirannya sendiri.

Maka dari itu, anak-anak dari Morowali “diambil” kemudian dikader di pusat. Kita bekali ilmu selama 3 tahun di Rumah Tahfidz. Setelah dikira bekal ilmu dan Al Qur’an sudah inside didalam dirinya, santri langsung dipulangkan ke Morowali untuk segera memulai petualangan dakwah Al Qur’an dan mengembangkan Rumah Tahfidz di daerahnya.

Empat santri tersebut, untuk putra akan kita kader di Rumah Tahfidz Daarul Qur’an Tambun, Bekasi. Sementara santri putri akan kita kader di Rumah Tahfidz Daarul Qur’an Al Ikhlas di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Semoga ikhtiar mengkader dan mencetak dai-dai dari pelosok republik ini diridhoi Allah SWT. Semoga dakwah Al Qur’an bisa menyebar ke seantero nusantara sehingga negeri ini selalu dalam naungan ridho dan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.