Berita
Mencetak Pendekar yang Hafal Al-Quran

  80


Tim Rumah Tahfidz Center (RTC) beserta Korda Rumah Tahfidz Sumatera Barat berkunjung ke Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Bukittinggi. Kedatangan tim RTC bukan hanya sekedar bersilaturahim. Lebih dari itu, tim RTC ingin menghadirkan Rumah Tahfidz untuk PKDP cabang Bukittinggi.

Kedatangan tim RTC disambut gembira oleh keluarga besar PKDP Bukittinggi. Bukan hanya para petinggi PKDP yang menyambut hangat, bahkan hampir semua anggota, lengkap dengan anak-anaknya juga menyambut rombongan RTC. Kehangatan perjumpaan kala itu mampu menghalau dinginnya cuaca Bukittinggi.

Tidak butuh waktu lama, seluruh keluarga besar PKDP dan tim RTC langsung duduk melingkar guna mendiskusikan rencana program Rumah Tahfidz untuk PKDP Bukittinggi. Para pengurus PKDP menyampaikan, bahwa selama ini kegiatan untuk anak-anak hanya terfokus untuk berlatih beladiri atau silat. Namun, untuk Al-Quran merasa sangat tertinggal. Maka dari itu PKDP Bukittinggi menguhubungi Korda Rumah Tahfidz Sumatera Barat untuk bersinergi menghadirkan kegiatan tahfidzul Qur'an di PKDP Bukittinggi.

Gayung bersambut, Ustadz Syukur Usman selaku Korda Rumah Tahfidz Sumatera Barat langsung mengagendakan pertemuan ini. Dalam sambutannya, beliau bercerita bahwa di Ranah Minang sekarang ini Al-Qur’an jauh tertinggal. Padahal dahulu ranah Minang terkenal melahirkan ulama-ulama tersohor. Beliau mengisahkan pada tahun 2016 berkeliling ke seluruh daerah di Sumatera Barat untuk mencari hafidz-hafidzhoh yang hafal Al-Qur’an 30 juz. Namun usahanya itu nihil. Sosok penghafal Al Qur’an yang mutqin 30 juz tidak ditemukan.

Maka sejak saat itu, beliau menginisiasi hadirnya Rumah Tahfidz di Sumatera Barat. Minimal satu kabupaten ada satu Rumah Tahfidz. Bersyukur, usahanya tersebut membuahkan hasil menggembirakan. “Alhamdulillah sekarang semua kabupaten di Sumatera Barat sudah ada Rumah Tahfidznya”, tutur Ustadz Syukur. Tugas kita sekarang adalah memperbanyak Rumah Tahfidz agar gaung Al Qur’an terdengar dari seluruh sudut Ranah Minang.

Apalagi dalam sambutannya, beliau mengingatkan bahwa di masyarakat Minangkabau ada sebuah ketetapan adat yang bunyinya, Adat Nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Arti singkatnya, adat yang didasarkan/ditopang oleh syariat tersebut berdasarkan pula pada Al-Qur’an dan Hadist.

Berkaca dari itu, sekarang ini seluruh masyarakat Minang harus berikhtiar melahirkan alim ulama yang ahlul Qur’an dan bisa menjadi imam masjid maupun pemimpin di masyarakat. Beliau mendorong kepada semua hadirin, bahwa generasi Minang sekarang inilah yang akan mengembalikan dan mengingatkan masyarakat Minang bahwa “kiblat” kita adalah Al Qur’an. Semua masyarakat Minang harus kembali ke Al-Qur’an tanpa terkecuali.

Untuk mewujudkan mimpi itu, tahapan pertama, tim RTC memberikan 100 mushaf Al-Qur’an kepada PKDT Bukittiinggi. “Al-Qur’an ini insyaallah berkah dan menjadi penyemangat santri disini agar menjadi penghafal Al Qur’an”, tutur salah satu petinggi PKDT.

Ustadz Sholeh sebagai direktur RTC menyambut gembira pertemuan kala itu. Beliau menegaskan, “insyaallah kami akan segera mengirim Ustadz atau Ustadzah untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada seluruh ratusan santri dan anggota PKDT”, tutur beliau.

Jadi, kedepannya di PKDT bukan hanya berkumpul lalu berlatih beladiri atau silat saja. Namun juga wajib belajar Al Qur’an. Harapan kita bersama, dari PKDT inilah kelak akan lahir para pendekar yang hafal Al Qur’an. Aamiin..