Berita
Sejarah Islam dan Gerakan Tahfidz di Takeran

  116


Desa Banaran, Kelurahan Kerik, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan adalah saksi sejarah berkembangnya budaya Islam batas barat Jawa TImur. Religiusitas masyarakatnya berasal dari perseberan Islam oleh Pondok Pesantren Sabili Muttaqien (PSM) yang didirikan oleh Kyai Hasan Ulama. Pesatnya perkembangan ilmu yang disampaikan kepada salah satu santrinya, Ali Mursyad, merefleksikan semangat membangun masyarakat dari Ponorogo ke Takeran.

Trilogi PSM (Ilmu, Amal, Taqwa) yang dibawa Ali Mursyad berbuah “lezat”, Masjid Bani Ali Mursyad berdiri di Desa Banaran, 16 kilometer dari Magetan. Di masjid bersejarah inilah satu nilai terus dirawati oleh para sesepuh, anak, dan generasi penerus Ali Mursyad, yakni tentang Islam yang akan menolong manusia di dunia dan akhirat.

Puluhan tahun berdakwah, Masjid Bani Ali Mursyad pun bergabung menjadi Rumah Tahfidz binaan PPPA Daarul Qur’an cabang Yogyakarta pada tahun 2012 lalu, ketika tahfidzul Qur’an belum tenar di Magetan. Sedikit santri bergabung dalam program menghafal Al-Qur’an meski dibebaskan dari biaya apapun.

Tahun 2018, hampir 6 tahun berjalan, Masjid Bani Ali Mursyad yang diasuh Ust. Ayib telah memiliki 350 santri, dari tingkat dasar hingga Tsanawi, program RumahTahfidz, dan beberapa sektor ekonomi penopang aktivitas mandiri pesantren ini. Setidaknya, ada 3 orang santri yang telah menghafal 30 juz Al-Qur’an selama kurang dari 5 tahun, yakni Muhammad Syahida, Faisal Fikri, dan Putri. Dan selama 2015 hingga 2017 terus memenangkan lomba Hifdzil Qur’an di Karisedenan Magetan dan sekitarnya.

Rata-rata, santri Rumah Tahfidz Bani Ali Mursyad dapat menghafal minimal 1 halaman per hari. Semangat menghafal para santri dapat dilihat pada setelah subuh, sepulang sekolah, sepanjang sore hingga malam menjelang tidur. Kebiasaannya, mereka memegang Al-Qur'an sembari bersandar di tembok di dalam masjid, ruang kelas, kamar, dan selasar masjid.

Semangat menghafal Al-Qur’an para santri harus terus dijaga, Program Mobile Qur’an PPPA Daarul Qur’an secara rutin mengunjungi Masjid Bani Ali Mursyad untuk memberikan suasana baru dalam menghafal Al-Qur’an. Selama 3 hari, dari 25 hingga 27 Januari 2018, Mobile Qur’an pun mengunjungi beberapa sekolah untuk mengembangkan gerakan tahfidz di Magetan, Jawa Timur. Ada 1.876 peserta training program Mobile Qur’an di Rumah Tahfidz Bani Ali Mursyad, MIN Takeran, MIN Tamanarum, MIN 3 Magetan, dan SD Tapak Panean.

Inisiasi gerakan rumah tahfidz oleh PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta disambut baik beberapa sekolah yang dikunjungi. Sistem tahfidz yang sudah berjalan akan terus mengalami perbaikan dan pengembangan. Pondasi sejarah Islam di Magetan yang kuat kini telah mencetak ratusan penghafal Al-Quran menjadi bukti tentang Islam yang terus bergerak dan berkembang. Bismillah, Takeran dengan keramahannya telah menjadi bagian dari pemulian Al-Quran dan akan terus memajukan Islam di segala bidang kehidupan untuk para santri, keluarga, dan masyarakatnya.