Berita
Ngadjiningratan di Nol Kilometer Yogyakarta

  99


(28/4)—Yogyakarta. Lampu malam berpijar kuning. Berderet rapi di sepanjang jalan Malioboro. Rentetan jajanan khas kota gudeg siap diajajal para pejalan kaki dan wisatawan. Becak motor dan kuda delman, menambah semarak kearifan lokal Budaya Jawa.

Selama empat pekan terakhir, ada yang berbeda di titik nol kilometer Yogyakarta. Program Ngadjiningratan PPPA Daarul Qur’an, menjadi daya tarik baru bagi para pengunjung di malam minggu.

“Acaranya bagus, saya jadi berani ngaji depan umum,” ujar Somi, asal Brebes.

Memperbaiki bacaan sampai menyetorkan hafalan Al-Qur’an, adalah menu utama di program Ngadjiningratan—ngaji di pinggir jalan.

“Saya salut, di tempat seluas ini, masih ada orang yang mau ngaji,” ungkap Roy, pengunjung asal Cianjur.

Antrian itu dimulai pukul 19.30 WIB. Sampai larut malam, lantunan ayat suci masih terdengar di pinggir jalan. Tidak hanya wisatawan, para pedagang kaki lima di 0 kilometer pun turut antri untuk memeriksa bacaan Al-Qur’annya.

“Walaupun saya ngaji otodidak setiap hari, ternyata masih banyak salahnya. Alhamdulillah, tadi sudah dibetulkan,” pungkas Jamaludin, lelaki asal Kalimantan Utara. []