Berita
Pantaskan Aku Menjadi Penghafal Al-Quran?

  329


Jauharotul Asfia berkisah tentang sulitnya menghafal Alquran ketika belum memasuki Rumah Tahfidz. Rasa takut terus melekat dipikirannya ketika mental, kapasitas ilmu agama yang belum mencukupi untuk menghafal. Ia ingat ucapan dari gurunya ketika dibacakannya kitab Toharatul Qulub, "derajat penghafal Alquran seperti para nabi tapi tidak diberi wahyu".

Kesulitan yang ia alami selama menghafal dan rasa tidak pantas menjadi penghafal Alquran terus menjadi masalah selama kuliah di STEBI Al-Muhsin, Yogyakarta. Walau demikian, ia berusaha sekuat tenaga untuk menghafal. Meski awalnya merasa kesulitan untuk mendapatkan satu halaman dalam satu hari. Sampai ia menyadari ada rasa yang tidak ikhlas dalam dirinya, ada niat yang kurang lurus, dan ada keraguan dalam menghafal Alquran.

Fia tidak tahu apakah kapasitas ilmu agamanya, mental sudah cukup untuk menghafal Alquran saat ini. Namun ia beranikan diri untuk masuk di Rumah Tahfidz Nur Hidayah Bantul. Satu bulan ia menjadi santriwati mukim, 2 juz langsung ia dapatkan.

"Kaya ada karbitnya pas aku masuk Rumah Tahfidz, ngafalnya jadi mudah dan ingetnya lama," ucapnya.

Niat dan ilmu yang didapat dalam menghafalkan Alquran akan ia terapkan sampai akhir bulan ketiga menuju pernikahannya. Kini hafalannya telah mencapai 4 juz. Fia mengatakan menghafal Alquran itu membersihkan diri karena setiap ayat yang dihafal mengalir di darah kita.