Berita
Anak Seorang Petani Mewujudkan Mimpi

  176


   “Pesan saya, untuk teman-teman sebaya di kampung halaman, tetap semangat dalam meraih cita-cita dan  harus rajin belajar agar  keinginannya bisa tercapai.” Ungkap Siti Fatimah  tentang resep kesuksesannya menjadi santri yang sudah 2 kali Goes to Malaysia.

   Gadis asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang akrab disapa Fatimah (17) berasal dari keluarga yang pas-pasan. Namun latar belakang keluarga dan ekonomi  tak menghalangi Siti Fatimah meraih pendidikan setinggi-tingginya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga ayahnya berprofesi sebagai petani penggarap lahan kosong milik orang lain, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Meski begitu, Fatimah mengaku bersyukur dengan kondisi keluarganya. Jerih payah orang tuanya dalam membiayai kehidupan keluarga menjadi motivasi Fatimah untuk pergi merantau guna meringankan beban keluarga.

Usai mendapat ijazah SD, Fatimah mendapatkan tawaran mondok/nyantri dari saudaranya di Bekasi. Dalam benaknya masih ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan setingi-tingginya. Hingga pada suatu waktu impian Fatimah mulai muncul, ketika itu ada seleksi santri Goes to Malaysia yang diadakan di Rumah Tahfidz Al-Fitroh Indonesia-Bekasi tempat dimana fatimah mondok. Tanpa berfikir panjang Fatimah pun langsung mengikuti seleksi.    

Hari demi hari berlalu, berbagai tahapan pun dilalui dengan mudah oleh gadis seorang petani asal Tasikmalaya. Sampai pada tahap pengumuman, jantung Fatimah serasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Hari itu merupakan penentuan siapakah yang akan lolos dan diberangkatkan ke Malayasia.

Rasa bahagia bercampur tangisan keluar dari air mata gadis petani asal Tasikmalaya. Fatimah masih tidak percaya namanya dinyatakan lolos dari seleksi santri Goes to Malaysia. Cita-cita yang selama ini diidamkan sedikit demi sedikit tercapai. “Alhamdulillah, saya sangat senang sekali dan ini perjalanan pertama saya keluar negeri, keberhasilan ini semata karena Allah dan berkat doa orang tua saya bisa seperti ini. Ibu-bapak keluarga semua senang ketika dapat kabar ini.”  Ujar Fatimah.

 Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, itulah ungkapan yang cocok untuk gadis seorang petani asal Tasikmalaya yang bernama Fatimah. Sepulangnya dari Malaysia Fatimah mendapatkan pelatihan mengajar selama satu tahun di Playgroup Plus Al-Fitroh Indonesia. Tak hanya ditugaskan mengajar di Playgroup Plus Al-Fitroh dan Di Kampung Quran Al-Fitroh Indonesia, Fatimah pun mendapatkan pendidikan secara gratis di sekolahnya. Keinginannya meringankan beban orang tua tercapai. Sekarang Fatimah sudah memiliki penghasilan sendiri.


Alhamdulillah sekarang sudah bisa ngebantu orang tua walaupun sedikit, Fatimah juga kepingin  memberangkatkan haji untuk kedua orang tua”.  Tuturnya sembari tersenyum.

Kisah Fatimah telah menunjukan kepada kita, bahwa dengan tekad yang kuat, selalu berusaha dan berdoa maka kita akan dapat meraih impian yang kita cita-citakan. Dan ia pun telah membuktikan bahwa uang bukanlah kendala, semua itu tergantung dari semangat dan daya juang kita sendiri untuk meraih cita-cita.