Berita
Menghafal itu Keberkahan Hidup!

  359


Peluh yang menetes tak menghalangi berkembangnya sebuah senyum hangat di bibirnya saat kami bertemu. Raut wajahnya sedikit penat, namun ia tetap tak menghiraukannya. Dari perkenalan kami disaung itu, Rico Efendi (20) bercerita tentang cita-citanya dalam menghafal Al-Qur’an.

Rico tercatat sebagai salah satu santri terlawas di Rumah Tahfidz Al-Qur’aniy, Kota Gajah, Lampung Tengah. Pada tahun 2013-2015, ia tak lebih dari seorang pekerja bengkel lulusan SMP di kabupaten Lampung Tengah yang bimbang tentang masa depannya. Pada saat itu, gaji bulanan telah ia dapatkan sebagai seorang montir di sebuah tempat perbaikan kendaran.

Mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi pun merupakan sebuah dilema karena sekolah akan membuatnya mengorbankan pekerjaannya. Hal itu belum termasuk biaya sekolah yang harus ia tanggung. Mengandalkan orang tua jelas tak mungkin. Profesi ayahnya yang hanya sebagai buruh bangunanhanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Sedangkan ibunya yang sejak kecil berpisah dengannya membuatnya menjadi seorang yang sangat mandiri baik dalam segi finansial ataupun sikap. Sebagai anak lelaki ia diharapkan mampu membantu keluarga secara materi, setidaknya dengan cara mencukupi kebutuhan pribadinya sendiri.

Mengikuti kata hati, banyak sekali pertimbangan yang memusingkan. “Saat itu saya sudah bekerja, tetapi ada keinginan kuat untuk belajar ilmu agama”, ucap Rico. Kemudian ia meminta saran kepada Bapak, lalu Bapak pun menyarankan agar ia menghafal Al-Qur’an di Rumah Tahfidz Al Qur’aniyy binaan Ustadz Khoirodin. Kebetulan Ustadz Khoirodin adalah adik kandung Bapaknya. Jadi, itulah pilihannya, Rico mantap memutuskan belajar di Rumah Tahfidz.

Awal Tahun 2015 merupakan momen perjuangan baginya. Saat itu, Rico menetapkan hati untuk serius mencari ilmu agama dan menghafalkan Al-Qur’an. Berbekal seadanya, pria yang asli Kotagajah ini masuk Rumah Tahfidz Al-Qur’aniy untuk menghafal Al-Quran dan memahami ilmu-ilmu agama. Waktu luang sekecil apapun selalu dimanfaatkannya untuk belajar dan membantu sesama.

Tiga bulan pertama seusai memantapkan diri menjadi santri tahfidz, dijalaninya sambil bekerja sebagai pengumpul getah karet. Hal ini terlihat seperti sebuah kegilaan tersendiri bagi Rico. Sempat ia berpikir bahwa ini merupakan suatu pertaruhan yang tak mudah. Realitas yang hadir dalam fikirannya,“bisakah menyelesaikan hafalan hingga 30 juz dengan kondisi sambil bekerja seperti ini?”

“Sebetulnya harapan saya hampir punah saat itu”, ucap Rico. Dan itu berhubungan dengan pesimisme saat menghafal yang terasa susah. Namun, saat itu Bapak berkata dengan santai, “kalau sudah jenuh menghafal atau terasa sulit, coba santai dulu. Segarkan otak dengan membantu mengurus ternak atau ladang milik Pak Ustadz. Barangkali dengan wasilah tersebut nanti kamu dipermudah oleh Allah karena sudah mempermudah juga urusan orang lain.” Kenangnya, yang membuat semangat Rico kembali merekah.

Segala puji bagi-Nya. Beberapa bulan setelah itu, Rico mulai merasakan nikmatnya menghafal Al-Qur’an. “Ada ketenangan tersendiri setelah menghafal al-Qur’an mas, malah kalau satu hari saja tidak mengulang-ngulang hafalan rasanya itu seperti tidak tenang, seperti ada beban yang belum terselesaikan, rizkipun seperti datang sendiri mas”, cakapnya sambil tetap memegang peci.

Tuhan tak ragu mencurahkan rizki padanya. Saat ia melayangkan permintaan untuk menyambi pekerjaan di luar, Ustadz justru memberikan alternatif pekerjaan menyayat pohon karet sehingga getahnya bisa ia jual. Rico tak kehilangan penghasilan bulanannya. Rencananya direvisi oleh Sang Maha Pencipta.

Apa rahasia dibalik kecukupan hidupnya selama ini? “Rahasianya nggak ada, kecuali yakin sama kekuasaan Allah dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha untuk bermanfaat bagi sesama. Adapun hasilnya nanti adalah takdir Allah yang terbaik buat kita,” ungkap Rico.

Sebagai penutup perbincangan saat itu, dengan tatapan matanya yang cerah dan senyumnya yang khas, Rico berpesan agak panjang-lebar. “Ketika masih dalam usia anak dan remaja, jangan pernah berpikir bahwa bekerja lebih baik ketimbang belajar. Terlebih menghafal Al-Quran. Belajar itu wajib, musti, kudu. Belajar itu tuntutan hidup. Belajar itu sampai akhir hayat. Berusahalah terus untuk belajar dan menghafal, sebab orang yang hatinya selalu terpaut kepada kalamullah, insyaallah tidak akan disia-siakan dan luruskan niat menghafal Al-Quran ini hanya lillahi ta’ala,” tuturnya mengakhiri perbincangan.

(Ditulis oleh Rahmat, santri Kader Tahfidz Angkatan-2)