Berita
Himmah bersama Al Qur'an

  205


Suasana Rumah Tahfidz Nurul Ummah Tanjungkari, Lampung Timur, di pagi hari masih terasa dingin menusuk kulit. Ditambah aroma vape yang menghalau nyamuk, membuat banyak santri masih terjaga dalam tidurnya. Namun berbeda dengan satu santri ini, Rum (23) namanya. Dia rela beranjak dari kasur beralas karpet untuk mengambil air wudhu. Dia memulai harinya dengan bermunajat kepada Sang Maha Pencipta. Dia adukan segala masalah hidupnya pada Sang Maha Pemberi Solusi. Dia curahkan setiap keresahan hatinya pada Sang Maha Penentram. Begitulah kesehariannya, selalu diawali dengan kebaikan. Rum yang memiliki 9 saudara ini yakin jika hari-harinya diawali dengan kebaikan pasti akan mendapat keberkahan.

Suatu waktu terdengar lantunan ayat-ayat Ilahi dari seorang gadis sederhana nan menyejukan ini. Dia membacakan kalamNya dengan syahdu, mungkin setiap orang akan luluh bahkan menitikan air mata ketika mendengarnya. Terkadang dengan bacaannya itu seakan menjadi alarm bagi santri lain, membangunkan dan membuat santri lainnya lekas bergegas menjalankan aktivitas sebagaimana di Rumah Tahfidz umumnya.

Mbiyen yo mbak, aku kipengen banget kuliah, tapi bapak pengen aku ngaji disit, ucap santri yang sudah khatam hafalan 30 juz ini.Aku yojane pas cilik pengen ngapalke Qur’an, tapi aku mikir kayake kok susah banget, ga mungkin nek aku bisa ngapalkene, tambahnya.

Dia pun berujar kalau dirinya selalu dibujuk oleh bapak dan ibunya untuk mondok. Orang tuanya menginginkan salah satu anaknya ada yang bisa ngaji Al-Qur’an, bahkan menghafalnya kalau bisa. Dorongan dari kakeknya pun menjadi penguat bagi dia. Tanpa pikir panjang, dia jawab “iya”. Dari situlah ia meninggalkan rumahnya kemudian mondok di Rumah Tahfidz Nurul Ummah.

Rumah Tahfidz Nurul Ummah, sebuah Rumah Tahfidz berbasis Pondok Pesantren, menjadi pilihannya untuk belajar Kitabullah. Sejak 16 Juli 2013 pada saat puasa ramadhan, Ustadzah Nur Hasanah (42) setia membimbing dan mendampingi Rum menghafal Al Baqarah sampai An Nas. Dia menyelesaikan hafalannya dalam waktu 3,5 tahun. Proses yang dilaluinya penuh lika-liku.

Santri yang asli Lampung ini menceritakan jika dirinya pada awalnya kesulitan beradaptasi dengan lingkungan pondok ditambah kesusahan ketika menghafal. Dia hadapi dengan keprihatinan, kemandirian, dan kesabaran. Kondisi seperti ini justru menjadikan semakin kuat tekad dirinya untuk terus menghafal.

Dengan segala keterbatasan yang ada tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Tak jarang pula, dia dan santri yang lain rewang-rewang (membantu) Ustadzah seperti mencuci pakaian, menyeterika, menyapu, dan mengepel. Semua dilakukannya dengan ikhlas sehingga ngajinya pun makin lancar.

Al Qur’an bagi santri yang berbadan mungil ini menjadi pedoman hidup untuk bahagia dunia dan akhirat. Terlebih dia ingin sekali memberikan mahkota kemuliaan untuk orangtuanya yang sudah bekerja keras menyukupi kebutuhannya. Harapan Rum sangat besar, dia ingin berdakwah dengan Al Qur’an apapun profesi nantinya, apapun pekerjaan kedepannya. Dia tetap ingin bersama Kalamullah sampai maut menjemputnya.

 

(Ditulis oleh Ummu, santri Kader Tahfidz Angkatan-2)