Artikel
Dream Saya, Dream Kita Semua

  589




Saya merinding, tatkala mengingat tokoh yang menjadi inspirasi bagi Daarul Qur'an. Dengan kegigihan hatinya, ia menggagas, hingga membangun pesantren yang dapat kita lihat seperti sekarang ini.

InsyaAllah, dengan izin Allah, kini, kami tengah berikhtiar mencetak generasi-generasi hafidz dan hafidzah. Namun, pesantern ini tidak hanya bergerak untuk mencetak penghafal Alqur'an biasa. Melainkan, Pesantren Tahfidz berkeinginan melahirkan pula guru-guru tahfidz untuk di pedesaan.

Hal ini guna memenuhi kebutuhan umat muslim. Hingga saat ini pun, kami belum dapat menyanggupi permintaan Malaysia, untuk mengirim 50 guru tahfidz.

Alhamdulillah, hadirnya pesantren ini memberikan nafas lega bagi kita. Karena, satu per satu, mimpi kita dapat terpenuhi, 101 Dream saya, Dream kita semua.

Dimana, Dream 101, kami ingin melahirkan panglima, jenderal, dan semua petinlkggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang hafidz Qur'an. Suatu saat, ketika kita telah mempunyai kapal induk, lantas berpapasan dengan waktu sholat. Maka, merekalah para panglima tersebut yang menjadi imam. 

Alhamdulillah, mimpi itu akan segera tuntas. Kenapa? kita lihat kemarin, salah satu santri kita, berdiri di depan TNI. Bukan karena ia bersalah. Melainkan, karena dirinya menjadi imam di sana, di atas sebuah kapal perang.

Adapun Dream selanjutnya, yaitu kami ingin memproduksi kepala-kepala negara yang hafal Alqur'an. Mereka akan menjadi Soekarno, Megawati, bahkan Jokowinya Indonesia yang baru.

Tenang, mereka bukan sekedar pemimpin, politikus dan pengusaha biasa. Tapi, mereka adalah seorang hafidz dan hafidzah, yang memimpin berdasarkan Alqur’an, kiblatnya langsung Allah SWT.

Impian ini sudah mulai bergerak. Melihat, beberapa pendaftar polisi, kalau kita lihat, mereka adalah seorang hafidz, calon-calon pilot, mereka adalah hafidz Qur'an. InsyaAllah, tiga tahun yang akan datang, semakin bermunculan tokoh-tokoh negara yang hafal Alqur'an.

Indah rasanya, jika kita semua sepakat, pemimpin sholat Tarawih nantinya dapat bergantian. Presiden lah yang mengawalinya, memimpin sholat ‘Isya dan dua rakaat Tarawih. Dilanjut, para menteri, dan ditutup oleh duta besar dari luar negeri pada sholat witirnya. Subhanallah.