Artikel
Kisah Tommy dan Kerja Keras Sang Ibu

  958


Selembar brosur PPPA Daarul Qur’an mengantarkan Hoediono Tommy Sutikno, Remaja kelahiran Malang (11/8/2000) untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Tommy telah menghafal sejak dirinya duduk di kelas 6 SD. Tommy panggilan akrabnya, memilih rumah Tahfidz Putra Kepanjen Malang untuk menyelesaikan hafalan 30 juz.

Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang dirasakan Tommy sangatlah berat. Sejak dirinya masih TK, orang tua Tommy sudah berpisah. Hingga kini, Tommy masih tinggal bersama bersama kedua saudara dan Ibunya di Perumahan IKIP Tegalgondo, Kecamatan Karangploso Malang.

Semasa SMA, Tommy sempat hampir putus cita-cita menghafalkan Al-Qur’an karena ibunya berat hati dan kondisi ekonomi keluarganya menurun. Berbagai macam upaya dikerahkan ibunya, Ira Kusumawati (45) untuk mencari nafkah, mulai dari berjualan makanan ringan, kerja serabutan hingga ngojek bertahun-tahun.

Beban hidup keluarga ditanggung penuh sang ibu dengan motor tua nya. Ibu Ira setiap hari standbay dan menerima telepon pelanggan dari pukul 8-menjelang maghrib. Situasi itu membuat Tommy ingin berhenti menghafal dan membantu Ibunya saja. Alhamdulillah, usai mendapatkan konseling dan motivasi dari Ustadz Nazili yang merupakan Asatidz PPPA Daarul Quran Malang akhirnya Ibu Ira kembali memberikan restunya agar Tommy kembali melanjutkan menghafal alquran.

Demi meraih cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur’an. Uang saku Tommy selama SMA di tabung agar meringankan beban ibunya. Kesungguhan Tommy membuahkan hasil manis, tepat kelas 2 SMA ia telah khatam menghafal 30 juz di Rumah Tahfidz Putera Kepanjen. Kemudian ia mendaftar kuliah dan diterima di UIN Maliki Malang mengambil Jurusan Perbankan Syariah.

“Setelah momet sulit hampir putus asa menghafalkan Al-Qur’an, Alhamdulillah sekarang saya merasakan keberkahan saat ini, bahkan juga mendapat Beasiswa Tahfidz Quran (BTQ) for leaders dari PPPA Daarul Quran. Saya bisa mengejar impian saya untuk menjadi pengusaha dan motivator”, tutur Tommy sambil senyum tersipu malu.

Tommy tumbuh menjadi pemuda yang mandiri dan bermanfaat. Sejak kuliah sampai menginjak semester 3, ia mulai usaha kecil-kecilan jualan pulsa dan nasi kuning. Selama sebulan ia bisa menghasilkan uang 800 ribu untuk menghidupinya sehari-hari.

Tak sampai disitu, Tommy dipercaya menjadi Duta Islamic Banking di Kampusnya. Ia juga menjadi asisten Laboratorium Micro Banking dan dipercaya teman-teman kelasnya untuk mengajari mereka saat kesulitan dengan materi kuliahnya. Tak lupa, Tommy tetap mengutamakan Al-Qur’annya, ia tetap mengikuti organiasasi HTQ (Hai’ad Tahfidz Qur’an) untuk mendukung kegiatan tahfidzul Qur’an bagi generasi muda.

Hal yang sama juga dilingkungan masyarakat sekitar derah tempat tinggalnya. Tommy mengajar TPQ Al-Hidayah di Musholla Al-Ishlah. Ada sekitar 10 santri yang mulai belajar Iqro dan dia aktif menjadi pengurus musholla. MasyaAllah, kehadiran Tommy benar-benar membawa berkah bagi lingkungan sekitarnya. Tentu saja dukungan Beasiswa Tahfidz Quran (BTQ) for Leaders adalah ikhtiar PPPA Daarul Quran untuk mencetak generasi-generasi muda penghafal Al-Qur’an yang berprestasi dan bermanfaat bagi lingkungannya seperti Tommy. Semoga Tommy istiqomah dalam kebaikan, Aamiin.[].