Artikel
Ramadhan Pertama Di dalam Kereta (Kisah ustadz Yakhub dan Santrinya)

  351


Usai sudah acara wtn 2019 menyisakan kenangan manis yang tidak terlupakan, semua peserta dan korda bersiap-siap untuk pulang ke kediaman masing. Bgitu juga peserta wTN, kafilah Jawa Timur yang berjumlah sembilan santri dan dua pedamping, bergegas untuk segera sampai ke rumah masing, untuk menumpahkan rasa rindu, untuk berbagi cerita serunya dan khitmadnya acara wtn. Namun hal itu tersendat, kafilah Jawa Timur dapat tiket kereta pada Ahad (5/5) pukul: 15.00.

"Hal ini kelihatannya biasa saja, itu hal yang lumrah, namun yg bikin sedih tgl 6 mei adalah hari pertama puasa, berarti nanti malam tidak bisa terawih, tidak tadarus,berarti nanti malam sahur di kereta? Berarti bsok kita puasa dalam perjalanan yang melelahkan?" ujar ustadz Yakhub selaku pembimbing santri Jawa Timur saat WTN kemarin.

Itulah yg terbayang di benak mereka, tapi dengan niat yang tulus dan tekat yang kuat tuk meraih keutamaan tarawih di malam pertama ramadhan, sebagian santri termasuk kordaJawa Timur melaksanakan tarawih di atas gerbong kereta setelah isya' dan dini hari sahur, tentu tidak bisa berjemaah, karena tempat solatnya hanya cukup satu orang, itupun sebelum salat harus pakai kompas untuk menentukan arah kiblat.
.
"Alhamdulillah sebuah pengalaman yang mungkin tidak semua orang mrngalaminya ,tadarus, sahur dan tarawih di atas gerbong kereta api, kebayang tidak ,gimana susahnya ,termasuk mau wudu' harus tergocang-goncang di atas gerbong! Namun rasa khusyu dan nikmatnya berkhalwat dengan sang pencipta, jdi terbayarkan", lanjutnya
.
Menjelang subuh barulah mereka sampai di stasiun Gubeng dan sampai di rumah masing sekitar pukul: 09.00 - 10.00. "alhamdulillah! Trimakasih ya allah, Engkau beri kesempatan Engkau kuatkan tekat kami untuk dapat meraih keutamaan tarawih di malam pertama ramdhan", lanjutnya.