Artikel
Tujuan Si Misterius Terungkap

  199


Menangis dalam sujud ditengah malam yang sunyi, dengan ditemani oleh panjatan doa-doa pada tuhan Yang Maha Kuasa, hanya itu yang mampu mereka lakukan saat itu.

Waktu itu, setelah selesai shalat dhuha sesuatu terjadi. Datang tanpa diudang, pulang tanpa diantar, uangpun ada digenggaman ustadz Muarifin tanpa tau siapa pengirimnya.  Dengan kuasa Allah, hamba tak dikenal menelpon dengan dalih mengatakan akan mentransfer sebesar Rp.8000.000 pada rekeningnya. Setelah dicek uangpun sudah tertera dijumlah saldo. Ucapan terimakasih ingin dilontarkan pada sang pahlwan, namun entah bagaimana nomor penelpon tak dapat dihubungi kembali.

Sebelum menutup telponnya, sang penelpon misterius ini mengatakan bahwa sebelum satu tahun pesantren akan sudah memiliki tempatnya sendiri. Tanpa menunggu lama, ustadz Muarifin mencari kontrakan yang kedua, dengan ijin Allah harga kontraka satu tahun dengan harga Rp. 7000.000 pun berhasil didapatkan. Dengan sisa uang Rp. 1000.000 ustadz Muarifin membeli segala peralatan yang diperlukan.

Dua bulan berlalu, ujianpun datang silih berganti. Santri yang menempati masjid diminta untuk segera meninggalkan mesjid, dengan dalih bahwa masjidnya menjadi kotor, tanpa tanggung-tanggung ustadz Muarifinpun harus disidang di tempat sang kepala desa. Keajaibanpun terjadi lagi, kepala desa tak menyalahkan ustadz Muarifin, melainkan membelanya, akan tetapi ustadz Muarifin dan para santri harus tetap meninggalkan masjid dengan jangka waktu yang telah ditentukan oleh pihak masjid.

Panjatan doa-doa terus digencarkan, pintu langit tak henti-hentinya diketuk. Dengan pengaharapan agar Sang Maha Pemberi berkenan meminjamkan tanahnya untuk dibangunnya tempat pembibitan generasi yang islami dan penghafal alqur'an.


Shalawat terus dipanjatkan dengan diiringi doa-doa penuh cucuran air mata. Dengan jangka waktu satu bulan sang hamba Allah yang memiliki tanah tersebut menelpon ustadz Muarifin.

"Assalamualaikum ustadz", ujar sang pemilik tanah mengawali pembicaraan.

"Waalaikumsalam", jawab ustadz Muarifin. "Ustadz, apakah benar tanah saya ingin dijadikan pesantren?", tanyanya.

"Betul insya Allah pak, bapak mohon maaf saya kepengen menghendaki tanah bapak untuk dijadikan pesantren, tapi saya enggak punya uang, yang punya hanya Allah pak, mohon keikhlasan bapak untuk meminjamkan tanah bapak agar dijadikan pesantren", ungkap ustadz Muarifin dengan penuh harap.

"Oh baik, kalo memang mau dijadikan pesantren saya persilahkan ustadz, saya pinjami, nanti kalo sudah punya uang silahkan berangkatkan anak saya untuk pergi haji",jawab pemilik tanah dengan penuh ketulusan.

Air mata tak dapat dibendung, rasa syukur terus terpanjatkan pada Yang Maha Kuasa, tangis bahagia, terharu, rasa syukur, semuanya meluap dari dalam diri. Dengan begitu ustadz Muarifin mencari kontarakan yang ketiga untuk ditempati santri putri. Dilanjut dengan kegiatan tabligh akbar dengan penceramah teman ustadz Muarifin sendiri.

Tanpa perintah dari siapapun, dengan ijin Allah temannya membukakan sorbannya yang kemudian digelarkannya tepat ditempat sujud ustadz Muarifin. Sejumlah uangpun terkumpul dengan jumlah yang begitu banyaknya.

Pembangunan aula bagi santri telah selesai, dan pelatihan MTQ bagi para santripun terus digencarkan, 17 santri dipilih untuk menjadi perwakilan dari rumah tahfidz ini, dan perkataan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasilpun memang benar adanya. Santri ustadz Muarifin berhasil menjuarai lomba MTQ.

Dengan kejuaraan ini pemerintahan provinsi kabupaten Katingan melirik rumah tahfidz ustadz Muarifin, dan akhirnya memberikan sebuah bangunan bekas kecamatan yang bentuknya kayu yang sekarang digunakan untuk asrama santri.