Artikel
Si Misterius, Datang Tak Diundang Pulangpun Tak Diantar

  174


Pada awal tahun 2014 dengan ijin Yang Maha Kuasa yakni Allah SWT. Ustadz Muarifin bersama teman seperjuangannya berusaha untuk terus mempertahankan sebuah rumah tahfidz harapannya. Saat itu mereka berkeliling meniti setiap jalan demi menjual Mie bakso yang menjadi harapan sumber penghasilan.

Waktu tak menjadi alasan bagi mereka untuk terus berusaha dengan sepenuh tenaga. Mulai dari pukul 09.30 hingga 12.00 WIB, ustadz Muarifin dengan sang teman melangkahkan kakinya untuk memulai pekerjaan dengan niat yang mulia.

Waktu merupakan sesuatu yang sangat berarti, karenanya ustadz Muarifin segera pergi untuk mengajarkan anak-anak yang mau mempelajari Al-qur'an. Pembelajaran dilakukan hingga adzan waktu ashar dikumandangkan.

Lillah menjadi panduan dalam diri untuk terus berusaha tanpa merasa lelah, ustadz Muarifin dan sang teman melanjutkan berjualan Mie bakso setelah shalat ashar hingga sebelum adzan maghrib berkumandang. Setelah shalat magrib bukan istirahat yang dilakukan mereka, melainkan pergi ke rumah tahfidz untuk mengajar beberapa santri yang belajar malam hari.

Dua tahun sudah berlalu, peluh yang bercucuran, air mata yang berjatuhan, terik mentari yang membakar kulit, menjadi saksi sebuah perjuangan ustadz Muarifin dan sang teman. Membayar dua pintu kontrakan dengan harga satu kontarakan Rp. 450.000 bukanlah hal yang ringan bagi pejuang pundi-pundi rupiah.
Dengan artian total setiap bulannya Rp. 900.000 yang harus dibayar.

Tetesan air mata dari tangisan disetiap malam milik ustadz Muarifin terus berjatuhan, memohon pada Sang Maha Kuasa untuk memudahkan jalan baginya.


Detik-detik terakhir ketika tidak mampu membayar kontrakan selama tiga bulan menjadi duka tersendiri bagi ustadz Muarifin karena pada saat itu juga mereka diminta untuk pergi dari kontrakan.

 

Bersambung