Artikel
Rambu-rambu Sang Raja

  98


Oleh: Tia Apriati Wahyuni

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah: 30)

Pemimpin bukan hanya mereka yang duduk di bangku kekuasaan. Melainkan setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Bekal tubuh dan akal sehat merupakam modal besar yang Allah SWT anugerahkan kepada makhluk ciptaan-Nya, naas. Ketika langit, bumi, dan gunung menolak amanah untuk mengemban tahta kepemimpinan, maka manusia sebagai makhluk yang bisa berbuat dzalim, menyanggupi tawaran tahata itu. Para malaikat pun terheran, mengapa Allah SWT menciptakan manusia yang hendak berbuat kerusakan? Sedang Ia memiliki makhluk-makhluk yang senantiasa bertasbih kepada-Nya? Ia sang Maha Tahu, turut menenangkan penduduk langit dengan mengatakan, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Beratnya amanah yang diemban manusia sebagai seorang pemimpin, maka Allah SWT pun memberi rambu-rambu Sang Raja kepada khalifah di muka bumi. Aturan yang harus digoreskan tinta pena pemimpin di atas kertas putih kekuasaan. Kepada ia yang mengurus hajat hidup orang banyak. Sang Raja memberikan rambu-rambu itu kepadamu.

Berbuat baiklah atas kedudukan yang kini engkau pijaki. Sebab engkau bertanggung jawab di hadapan Allah SWT. Kelak segala tindak-tanduk, kebaikan dan keburukan yang usai diperbuat akan mendapat balasan. Imbalan dari tugas khalifah fil ardh.

Mengemban amanah, bukanlah tugas mencari tumpukan harta untuk kepuasan hasrat pribadi, atau tangan yang melambai di atas tangga popularitas. Melainkan kerelaan hati untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang membutuhkan. Ini bukan jalan yang mudah untuk dilewati, tapi bukan pula jalan yang tiada uluran tangan dari Maha Pemberi Bantuan.

Jika terucap janji melalui gerakan lisan atau tergores huruf di atas hitam putih, maka berusahalah menempati janji itu. Laksanakan sebagimana amanah itu harus berjalan. Saling menghargai dan bekerja sama dengan karib pekerjaan, ialah roda amanah yang harus dikayuh bersama. Apabila ada kesalahan rakyatmu, padamkanlah dengan cara yang baik.

Menjadi seorang khalifah, ialah usaha untuk mengendalikan diri. Mendorong untuk berbuat adil, serta menahan dari berbuat dzalim. Seketika amarah harus ditahan guna mengetahui kebenaran akal daripada emosi di dalam dada. Duduk tenang guna mendengarkan semut kecil yang sedang menceritakan nasib hidupnya, hampir digilas penduduk berbadan besar, ialah pekerjaan besar bagi pemimpin. Atau saat ia harus menahan peradilan seorang pencuri, demi mendengar cerita kebenaran? Kehati-hatian tangan dan lisan seorang pemimpin, menentukan nasib rakyat yang dinahkodai.

Keikhlasan dan niatan yang lurus, adalah dua situasi dada yang harus terus dikawal dengan jatuh bangunnya seorang pemimpin. Ketika kesulitan datang, jangan pernah menuhankan ikhtiar di atas doa dan pengharapan kepada Rabb Semesta Alam. Alangkah tidak pantasnya apabila seorang ciptaan menyombongkan diri atas Sang Maha Pencipta. Maka perhatikanlah rambu-rambu Sang Raja. Rambu-rambu yang tertuang di dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’an.

Gambar: Pexels