Artikel
Si Analis Tajam

  75


Oleh: Tia Apriati Wahyuni

Mampu melihat warna-warni dunia merupakan suatu anugrah di dalam hidup. Warna jingga kebiruan saat fajar menyingsing atau warna senja ketika sore hari, mampu ngendorkan urat saraf yang tegang setelah setengah hari bergulat dengan tumpukan pekerjaan. Hiruk pikuk perkotaan, bertumpuk-tumpuk laporan, hingga tuntutan yang tak berujung, mampu melupakan sejanak rasa syukur dalam hati, jika tidak pandai mengingat-Nya di dalam kesibukan. Keluh kesah pun bisa terlafal di dua bibir.

Kali ini mari belajar menjadi seorang analis tajam. Seorang analis yang mampu membaca setiap peristiwa dalam hidup. Bukan untuk jumawa atas apa yang ditemukan, melainkan membuka kesadaran yang selama ini tertidur di atas dipan keangkuhan. Lantas, lupa atas Ia yang Maha Pemberi pengetahuan.

Menggapai segala cita dan cinta dalam hidup, ialah satu dari sekian pekerjaan manusia di atas permukaan bumi. Dengan tawa, tangis, diam, terperangah, marah, dan memaafkan, semuanya pernah dirasakan oleh makhluk yang dikaruniakan akal dan perasaan. Semua itu bukan sekedar untuk diekspresikan semata melalui banyak indra, melainkan untuk diambil hikmah pelajaran yang tersimpan di dalamnya.

Jika banyak orang menilai, bahwa proses pendidikan yang baik di dalam suatu kelas adalah proses pembelajaran yang jauh dari sebuah kesalahan atau trial and error, maka si guru akan merasakan stres dan lelah yang berkepanjangan. Lelah tak berujung yang tidak menemukan ketenangan di dalamnya. Mengapa?

Jika proses belajar adalah miniatur dalam menjalani hidup, maka tidak akan ada sebuah kehidupan yang berjalan mulus begitu saja, tanpa merasakan kebingungan atau kesalahan. Maka, sejumlah koreksi di atas kertas putih pun akan tertuang. Ada bekas tulisan yang masih terlihat jejaknya, meski usai dihapus, limpahan tipe-x untuk menutup kesalahan, atau corat-coret pensil untuk mencari satu jawaban dengan banyak cara, bisa terjadi dalam proses pembelajaran seorang siswa.

Begitupula dengan madrasah kehidupan seorang insan di muka bumi. Sejumlah perasaan yang usai disebutkan, lahir dari trial and error menjalani setiap harinya. Alangkah arifnya jika seorang guru memahami saat seorang siswa hanya mendapatkan nilai 40 dari skor 100, tapi tidak lantas memarahinya. Ia tidak menuntut anak itu untuk lekas mendapatkan nilai sempurna atau lolos dari nilai batas rata-rata lulus. Melainkan mengajarkan peserta didiknya untuk memperbaiki kesalahan guna melanjutkan proses belajar. Membantu menghapus segala kesalahan dengan cara yang seharusnya ditempuh atau membetulkan angka yang keliru dihitung oleh sang murid. Betapa mulianya proses belajar seperti ini? Hingga suatu saat, seorang siswa itu faham atas segala kesalahan yang diperbuat dan mampu sampai di titik kelulusan.

Segala tantangan dalam belajar, percobaan yang dilakukan berulang kali, hingga bertumpuk-tumpuk kesalahan dalam satu pelajaran, usai ia analisis dengan cara menjalaninya. Menjadi seorang analis tajam bagi dirinya dan orang lain.

Di satu kesempatan dalam hidup, kita akan berperan menjadi seorang guru yang lihai dalam menemukan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Di sanalah tugas sebagi seorang pendidik akan berperan untuk melewati setiap perbaikan dari kesalahan orang lain. Agar ia faham mengapa ia harus meninggalkan kesalahan dan memperbaikinya.

Namun, di lain kesempatan, kita akan berperan sebagai seorang murid yang harus tajam dalam menganalisis segala kesalahan yang usai diperbuat oleh diri sendiri. Sejumlah percobaan trial and error harus dilakukan untuk memperbaiki satu tindakan pribadi. Rasa lelah hingga malu pun kerap dirasakan ketika menjalani proses perbaikan. Manusiawi. Karena di saat itulah, kesadaran kita sebagai seorang hamba akan terbangun dan hidup, bahwa tiada kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Foto: Unsplash