Artikel
Hujan Membawa Cerita

  82


Oleh: Tia Apriati Wahyuni

Mendung. Musim hujan telah datang mengganti musim panas sebelumnya. Tetes air yang jatuh dari atas ketinggian awan mulai mengguyur tanah-tanah gersang di bawahnya. Sorak sorai terdengar di belahan bumi yang sudah lama tidak terjamah rembesan air. Kering, tandus, hingga dahaga di kerongkongan kering pun kerap terasa. Belum lagi cuaca panas yang menyengat kulit kering berwarna coklat matang. Debu-debu jalanan pun mengubah warna dedaunan di sisi-sisi jalan menjadi abu-abu.

Namun, di tempat lain ada yang mengeluhkan datangnya air hujan. “Ah! Bagaimana bisa hujan turun disaat seperti ini?” Pakaian rapih usai melekat di badan, sepatu mengkilat, dan setelan jas hitam siap terpapar cahaya matahari. Berjalan di tengah raimanya jalanan perkotaan. Jutaan tetes air yang turun dan menggenang di atas tanah, bisa menodai tampilan “Necis” hari ini.

Di Pinggir jalanan kota besar, seorang bapak membebat kepalanya dengan plastik hitam. Potongan plastik transparan ukuran 1x2 meter dilubangi agar bisa meloloskan kepala, menjadi jas hujan ala kadarnya. Tidak masalah, asal bisa melindungi sebagian tubuhnya dan menghindari sakit kepala akibat guyuran air hujan. Lantas ia pun menuangkan cairan air kopi yang dituang di dalam gelas plastik dan dikemas dengan plastik es untuk ditawarkan ke setiap pengendara. Cuaca dingin ketika hujan turun memang mengundang rasa kantuk. Jadi, segelas kopi hitam pekat yang dijajakan, cukup menjadi penawar yang nikmat bagi para driver ditengah kemacetan. Al hasil, hujan menderaskan rezeki pedagang kopi jalanan.

Atau seorang pemulung yang begitu antusias saat hujan turun. Dipikulnya karung besar dan “kail” panjang untuk mengambil setiap botol plastik yang berserak di pinggir jalan. Ia sangat bersemangat karena banyak orang yang enggan untuk mencari rezeki saat hujan turun. Kemalasan itu dijadikannya peluang besar guna menjemput rezeki. Dengan suka hati ia mengorek setiap tempat sampah yang dipandang jijik oleh kebanyakan orang, tapi di hapadan matanya, tumpukan botol plastik itu adalah gudang penghasilan.

Bahkan seorang ibu yang duduk di balik jendela pun turut mencemaskan suami dan anaknya yang berada di luar sana. Dua anak duduk di sekolah dasar, seorang lainnya tinggal di perantauan, dan seorang suami yang turut menjajakan bakso guna mencari penghasilan. Hujan pun menghadirkan rasa khawatir sebagai bentuk rindu dan kasih sayang kepada belahan jiwa.

Itu hanya beberapa bait cerita yang tertuang saat hujan turun. Hujan yang turun bisa mendatangkan rasa khawatir, rindu, syukur, atau keluhan bagi mereka yang menyangkal kedatangan hujan.

 

Foto: Unsplash